Kalau lihat dari latar belakang kuliah saya di bidang IT, mungkin ada yang mikir:
“Loh, kok anak IT malah kerja di konveksi?”
Saya juga cukup sering kepikiran hal yang sama kalau melihat perjalanan saya sendiri.
Selama lebih dari 3 tahun, saya kerja part-time di CV Giri Jaya sambil tetap menjalani kuliah di bidang IT.
Dan kerjaan saya waktu itu bukan yang berhubungan sama komputer, coding, jaringan, atau hal-hal teknis lainnya.
Justru cukup jauh.
Saya terlibat langsung di proses produksi pakaian.
Mulai dari menyiapkan bahan, memotong pola, menjahit, membantu proses produksi, sampai memastikan barang siap dikirim.
Kalau dibilang pekerja produksi, bisa.
Kalau dibilang production support, juga cukup menggambarkan apa yang saya kerjakan.
Yang jelas, selama di sana saya benar-benar ikut terlibat dalam prosesnya.
Dari Kain Sampai Jadi Barang Siap Kirim
Sebelum kerja di konveksi, saya nggak terlalu kepikiran kalau sebuah baju ternyata punya proses yang cukup panjang.
Nggak sekadar kain masuk mesin jahit lalu selesai.
Ada proses persiapan bahan.
Ada pemotongan pola.
Ada proses jahit.
Ada pengecekan hasil.
Ada finishing.
Ada packing.
Sampai akhirnya barang siap dikirim ke pelanggan.
Dan kalau ada satu bagian yang kurang tepat, efeknya bisa lanjut ke proses berikutnya.
Misalnya potongan pola kurang presisi, otomatis proses jahitnya juga bisa jadi lebih sulit.
Atau hasil jahitan kurang rapi, ya harus dicek dan diperbaiki lagi sebelum barang dikirim.
Dari situ saya mulai paham kalau pekerjaan produksi itu benar-benar membutuhkan ketelitian.
“Tapi Kan Nggak Nyambung Sama IT?”
Kalau dilihat dari bidangnya, memang nggak langsung nyambung.
Saya kuliah IT, tapi kerja bikin baju.
Cukup berbeda.
Tapi setelah dijalani cukup lama, saya justru merasa banyak hal dari pekerjaan ini yang ternyata tetap kepakai sampai sekarang.
Contohnya:
- Ketelitian
Sedikit salah potong atau salah ukuran bisa memengaruhi hasil akhir. - Disiplin
Produksi punya target dan pekerjaan harus selesai sesuai waktunya. - Kerja sama
Proses produksi nggak bisa dikerjakan sendiri. Setiap orang punya bagian masing-masing. - Komunikasi
Kalau ada bahan kurang, ukuran salah, atau ada kendala produksi, harus cepat disampaikan. - Problem solving
Kadang ada kondisi yang nggak sesuai rencana dan harus cari solusi supaya pekerjaan tetap jalan.
Kalau dipikir-pikir, hal-hal seperti itu sebenarnya juga banyak dipakai di dunia IT.
Teknologinya mungkin beda.
Tapi cara kerjanya kadang mirip.
Kuliah IT, Kerja Produksi, dan Harus Tetap Jalan Dua-duanya
Bagian yang cukup menantang tentu soal bagi waktu.
Karena selama kerja di CV Giri Jaya, saya juga masih aktif kuliah.
Jadi ada masa ketika kerjaan lagi banyak, tapi tugas kuliah juga lagi banyak.
Ada deadline.
Ada project.
Ada ujian.
Tapi pekerjaan tetap harus jalan.
Kadang selesai kerja masih lanjut ngerjain tugas.
Kadang sebaliknya, urusan kuliah diselesaikan dulu baru lanjut kerja.
Nggak selalu rapi.
Kadang capek juga.
Tapi dari situ saya mulai terbiasa dengan kondisi di mana beberapa tanggung jawab datang bersamaan.
Mungkin itu juga salah satu hal paling besar yang saya dapat selama kerja sambil kuliah.
Saya belajar kalau nggak semua hal bisa menunggu kita siap.
Kadang ya harus mulai dikerjakan saja satu per satu.
Tiga Tahun Lebih Ternyata Bukan Waktu yang Sebentar
Kalau cuma beberapa minggu atau beberapa bulan mungkin ceritanya beda.
Tapi saya menjalani pekerjaan ini lebih dari 3 tahun.
Lumayan panjang.
Jadi selama itu saya nggak cuma belajar pekerjaannya, tapi juga melihat sendiri bagaimana proses produksi berjalan dari waktu ke waktu.
Ada hari yang santai.
Ada hari yang produksi lagi padat.
Ada pesanan yang simpel.
Ada juga yang cukup ribet.
Dari situ saya juga semakin terbiasa beradaptasi dengan kondisi pekerjaan.
Dan menurut saya, pengalaman seperti ini cukup berharga.
Bukan karena bidang pekerjaannya harus sama dengan jurusan kuliah.
Tapi karena kita belajar menghadapi dunia kerja secara langsung.
Nggak Semua Pengalaman Harus Linear
Dulu mungkin saya sempat mikir kalau pengalaman kerja yang bagus itu harus selalu sesuai dengan jurusan.
Kalau kuliah IT, ya harus kerja IT.
Kalau kuliah teknik, ya kerja teknik.
Tapi setelah saya jalanin sendiri, sekarang saya melihatnya agak berbeda.
Pengalaman memang bagus kalau relevan dengan bidang yang ingin kita kejar.
Tapi bukan berarti pengalaman yang berbeda jadi nggak punya nilai.
Kerja di konveksi mengajarkan saya banyak hal yang nggak saya dapat langsung dari perkuliahan.
Bagaimana bekerja dengan target.
Bagaimana menjaga kualitas.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana menyelesaikan tanggung jawab walaupun sedang capek.
Dan bagaimana tetap konsisten dalam waktu yang cukup panjang.
Jadi, Anak IT Kerja di Konveksi Aneh Nggak?
Kalau sekarang ditanya, saya akan jawab:
Nggak juga.
Memang jalurnya nggak lurus.
Tapi justru itu bagian dari perjalanan saya.
Saya belajar IT di kampus.
Saya belajar dunia kerja dari konveksi.
Dan keduanya memberikan pelajaran dengan caranya masing-masing.
Sekarang mungkin fokus karier saya lebih dekat dengan teknologi.
Tapi pengalaman lebih dari 3 tahun kerja part-time di produksi tetap menjadi bagian yang cukup penting buat saya.
Karena dari sana saya belajar bahwa skill teknis memang penting.
Tapi cara kita bekerja, bertanggung jawab, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah juga nggak kalah penting.
Jadi kalau ada yang bertanya lagi,
“Anak IT kok kerja di konveksi?”
Ya, memang.
Dan saya nggak merasa pengalaman itu sia-sia sama sekali.
Kalau lihat dari latar belakang kuliah saya di bidang IT, mungkin ada yang mikir:
“Loh, kok anak IT malah kerja di konveksi?”
Saya juga cukup sering kepikiran hal yang sama kalau melihat perjalanan saya sendiri.
Selama lebih dari 3 tahun, saya kerja part-time di CV Giri Jaya sambil tetap menjalani kuliah di bidang IT.
Dan kerjaan saya waktu itu bukan yang berhubungan sama komputer, coding, jaringan, atau hal-hal teknis lainnya.
Justru cukup jauh.
Saya terlibat langsung di proses produksi pakaian.
Mulai dari menyiapkan bahan, memotong pola, menjahit, membantu proses produksi, sampai memastikan barang siap dikirim.
Kalau dibilang pekerja produksi, bisa.
Kalau dibilang production support, juga cukup menggambarkan apa yang saya kerjakan.
Yang jelas, selama di sana saya benar-benar ikut terlibat dalam prosesnya.
Dari Kain Sampai Jadi Barang Siap Kirim
Sebelum kerja di konveksi, saya nggak terlalu kepikiran kalau sebuah baju ternyata punya proses yang cukup panjang.
Nggak sekadar kain masuk mesin jahit lalu selesai.
Ada proses persiapan bahan.
Ada pemotongan pola.
Ada proses jahit.
Ada pengecekan hasil.
Ada finishing.
Ada packing.
Sampai akhirnya barang siap dikirim ke pelanggan.
Dan kalau ada satu bagian yang kurang tepat, efeknya bisa lanjut ke proses berikutnya.
Misalnya potongan pola kurang presisi, otomatis proses jahitnya juga bisa jadi lebih sulit.
Atau hasil jahitan kurang rapi, ya harus dicek dan diperbaiki lagi sebelum barang dikirim.
Dari situ saya mulai paham kalau pekerjaan produksi itu benar-benar membutuhkan ketelitian.
“Tapi Kan Nggak Nyambung Sama IT?”
Kalau dilihat dari bidangnya, memang nggak langsung nyambung.
Saya kuliah IT, tapi kerja bikin baju.
Cukup berbeda.
Tapi setelah dijalani cukup lama, saya justru merasa banyak hal dari pekerjaan ini yang ternyata tetap kepakai sampai sekarang.
Contohnya:
- Ketelitian
Sedikit salah potong atau salah ukuran bisa memengaruhi hasil akhir. - Disiplin
Produksi punya target dan pekerjaan harus selesai sesuai waktunya. - Kerja sama
Proses produksi nggak bisa dikerjakan sendiri. Setiap orang punya bagian masing-masing. - Komunikasi
Kalau ada bahan kurang, ukuran salah, atau ada kendala produksi, harus cepat disampaikan. - Problem solving
Kadang ada kondisi yang nggak sesuai rencana dan harus cari solusi supaya pekerjaan tetap jalan.
Kalau dipikir-pikir, hal-hal seperti itu sebenarnya juga banyak dipakai di dunia IT.
Teknologinya mungkin beda.
Tapi cara kerjanya kadang mirip.
Kuliah IT, Kerja Produksi, dan Harus Tetap Jalan Dua-duanya
Bagian yang cukup menantang tentu soal bagi waktu.
Karena selama kerja di CV Giri Jaya, saya juga masih aktif kuliah.
Jadi ada masa ketika kerjaan lagi banyak, tapi tugas kuliah juga lagi banyak.
Ada deadline.
Ada project.
Ada ujian.
Tapi pekerjaan tetap harus jalan.
Kadang selesai kerja masih lanjut ngerjain tugas.
Kadang sebaliknya, urusan kuliah diselesaikan dulu baru lanjut kerja.
Nggak selalu rapi.
Kadang capek juga.
Tapi dari situ saya mulai terbiasa dengan kondisi di mana beberapa tanggung jawab datang bersamaan.
Mungkin itu juga salah satu hal paling besar yang saya dapat selama kerja sambil kuliah.
Saya belajar kalau nggak semua hal bisa menunggu kita siap.
Kadang ya harus mulai dikerjakan saja satu per satu.
Tiga Tahun Lebih Ternyata Bukan Waktu yang Sebentar
Kalau cuma beberapa minggu atau beberapa bulan mungkin ceritanya beda.
Tapi saya menjalani pekerjaan ini lebih dari 3 tahun.
Lumayan panjang.
Jadi selama itu saya nggak cuma belajar pekerjaannya, tapi juga melihat sendiri bagaimana proses produksi berjalan dari waktu ke waktu.
Ada hari yang santai.
Ada hari yang produksi lagi padat.
Ada pesanan yang simpel.
Ada juga yang cukup ribet.
Dari situ saya juga semakin terbiasa beradaptasi dengan kondisi pekerjaan.
Dan menurut saya, pengalaman seperti ini cukup berharga.
Bukan karena bidang pekerjaannya harus sama dengan jurusan kuliah.
Tapi karena kita belajar menghadapi dunia kerja secara langsung.
Nggak Semua Pengalaman Harus Linear
Dulu mungkin saya sempat mikir kalau pengalaman kerja yang bagus itu harus selalu sesuai dengan jurusan.
Kalau kuliah IT, ya harus kerja IT.
Kalau kuliah teknik, ya kerja teknik.
Tapi setelah saya jalanin sendiri, sekarang saya melihatnya agak berbeda.
Pengalaman memang bagus kalau relevan dengan bidang yang ingin kita kejar.
Tapi bukan berarti pengalaman yang berbeda jadi nggak punya nilai.
Kerja di konveksi mengajarkan saya banyak hal yang nggak saya dapat langsung dari perkuliahan.
Bagaimana bekerja dengan target.
Bagaimana menjaga kualitas.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana menyelesaikan tanggung jawab walaupun sedang capek.
Dan bagaimana tetap konsisten dalam waktu yang cukup panjang.
Jadi, Anak IT Kerja di Konveksi Aneh Nggak?
Kalau sekarang ditanya, saya akan jawab:
Nggak juga.
Memang jalurnya nggak lurus.
Tapi justru itu bagian dari perjalanan saya.
Saya belajar IT di kampus.
Saya belajar dunia kerja dari konveksi.
Dan keduanya memberikan pelajaran dengan caranya masing-masing.
Sekarang mungkin fokus karier saya lebih dekat dengan teknologi.
Tapi pengalaman lebih dari 3 tahun kerja part-time di produksi tetap menjadi bagian yang cukup penting buat saya.
Karena dari sana saya belajar bahwa skill teknis memang penting.
Tapi cara kita bekerja, bertanggung jawab, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah juga nggak kalah penting.
Jadi kalau ada yang bertanya lagi,
“Anak IT kok kerja di konveksi?”
Ya, memang.
Dan saya nggak merasa pengalaman itu sia-sia sama sekali.
Kalau lihat dari latar belakang kuliah saya di bidang IT, mungkin ada yang mikir:
“Loh, kok anak IT malah kerja di konveksi?”
Saya juga cukup sering kepikiran hal yang sama kalau melihat perjalanan saya sendiri.
Selama lebih dari 3 tahun, saya kerja part-time di CV Giri Jaya sambil tetap menjalani kuliah di bidang IT.
Dan kerjaan saya waktu itu bukan yang berhubungan sama komputer, coding, jaringan, atau hal-hal teknis lainnya.
Justru cukup jauh.
Saya terlibat langsung di proses produksi pakaian.
Mulai dari menyiapkan bahan, memotong pola, menjahit, membantu proses produksi, sampai memastikan barang siap dikirim.
Kalau dibilang pekerja produksi, bisa.
Kalau dibilang production support, juga cukup menggambarkan apa yang saya kerjakan.
Yang jelas, selama di sana saya benar-benar ikut terlibat dalam prosesnya.
Dari Kain Sampai Jadi Barang Siap Kirim
Sebelum kerja di konveksi, saya nggak terlalu kepikiran kalau sebuah baju ternyata punya proses yang cukup panjang.
Nggak sekadar kain masuk mesin jahit lalu selesai.
Ada proses persiapan bahan.
Ada pemotongan pola.
Ada proses jahit.
Ada pengecekan hasil.
Ada finishing.
Ada packing.
Sampai akhirnya barang siap dikirim ke pelanggan.
Dan kalau ada satu bagian yang kurang tepat, efeknya bisa lanjut ke proses berikutnya.
Misalnya potongan pola kurang presisi, otomatis proses jahitnya juga bisa jadi lebih sulit.
Atau hasil jahitan kurang rapi, ya harus dicek dan diperbaiki lagi sebelum barang dikirim.
Dari situ saya mulai paham kalau pekerjaan produksi itu benar-benar membutuhkan ketelitian.
“Tapi Kan Nggak Nyambung Sama IT?”
Kalau dilihat dari bidangnya, memang nggak langsung nyambung.
Saya kuliah IT, tapi kerja bikin baju.
Cukup berbeda.
Tapi setelah dijalani cukup lama, saya justru merasa banyak hal dari pekerjaan ini yang ternyata tetap kepakai sampai sekarang.
Contohnya:
- Ketelitian
Sedikit salah potong atau salah ukuran bisa memengaruhi hasil akhir. - Disiplin
Produksi punya target dan pekerjaan harus selesai sesuai waktunya. - Kerja sama
Proses produksi nggak bisa dikerjakan sendiri. Setiap orang punya bagian masing-masing. - Komunikasi
Kalau ada bahan kurang, ukuran salah, atau ada kendala produksi, harus cepat disampaikan. - Problem solving
Kadang ada kondisi yang nggak sesuai rencana dan harus cari solusi supaya pekerjaan tetap jalan.
Kalau dipikir-pikir, hal-hal seperti itu sebenarnya juga banyak dipakai di dunia IT.
Teknologinya mungkin beda.
Tapi cara kerjanya kadang mirip.
Kuliah IT, Kerja Produksi, dan Harus Tetap Jalan Dua-duanya
Bagian yang cukup menantang tentu soal bagi waktu.
Karena selama kerja di CV Giri Jaya, saya juga masih aktif kuliah.
Jadi ada masa ketika kerjaan lagi banyak, tapi tugas kuliah juga lagi banyak.
Ada deadline.
Ada project.
Ada ujian.
Tapi pekerjaan tetap harus jalan.
Kadang selesai kerja masih lanjut ngerjain tugas.
Kadang sebaliknya, urusan kuliah diselesaikan dulu baru lanjut kerja.
Nggak selalu rapi.
Kadang capek juga.
Tapi dari situ saya mulai terbiasa dengan kondisi di mana beberapa tanggung jawab datang bersamaan.
Mungkin itu juga salah satu hal paling besar yang saya dapat selama kerja sambil kuliah.
Saya belajar kalau nggak semua hal bisa menunggu kita siap.
Kadang ya harus mulai dikerjakan saja satu per satu.
Tiga Tahun Lebih Ternyata Bukan Waktu yang Sebentar
Kalau cuma beberapa minggu atau beberapa bulan mungkin ceritanya beda.
Tapi saya menjalani pekerjaan ini lebih dari 3 tahun.
Lumayan panjang.
Jadi selama itu saya nggak cuma belajar pekerjaannya, tapi juga melihat sendiri bagaimana proses produksi berjalan dari waktu ke waktu.
Ada hari yang santai.
Ada hari yang produksi lagi padat.
Ada pesanan yang simpel.
Ada juga yang cukup ribet.
Dari situ saya juga semakin terbiasa beradaptasi dengan kondisi pekerjaan.
Dan menurut saya, pengalaman seperti ini cukup berharga.
Bukan karena bidang pekerjaannya harus sama dengan jurusan kuliah.
Tapi karena kita belajar menghadapi dunia kerja secara langsung.
Nggak Semua Pengalaman Harus Linear
Dulu mungkin saya sempat mikir kalau pengalaman kerja yang bagus itu harus selalu sesuai dengan jurusan.
Kalau kuliah IT, ya harus kerja IT.
Kalau kuliah teknik, ya kerja teknik.
Tapi setelah saya jalanin sendiri, sekarang saya melihatnya agak berbeda.
Pengalaman memang bagus kalau relevan dengan bidang yang ingin kita kejar.
Tapi bukan berarti pengalaman yang berbeda jadi nggak punya nilai.
Kerja di konveksi mengajarkan saya banyak hal yang nggak saya dapat langsung dari perkuliahan.
Bagaimana bekerja dengan target.
Bagaimana menjaga kualitas.
Bagaimana berkomunikasi dengan orang lain.
Bagaimana menyelesaikan tanggung jawab walaupun sedang capek.
Dan bagaimana tetap konsisten dalam waktu yang cukup panjang.
Jadi, Anak IT Kerja di Konveksi Aneh Nggak?
Kalau sekarang ditanya, saya akan jawab:
Nggak juga.
Memang jalurnya nggak lurus.
Tapi justru itu bagian dari perjalanan saya.
Saya belajar IT di kampus.
Saya belajar dunia kerja dari konveksi.
Dan keduanya memberikan pelajaran dengan caranya masing-masing.
Sekarang mungkin fokus karier saya lebih dekat dengan teknologi.
Tapi pengalaman lebih dari 3 tahun kerja part-time di produksi tetap menjadi bagian yang cukup penting buat saya.
Karena dari sana saya belajar bahwa skill teknis memang penting.
Tapi cara kita bekerja, bertanggung jawab, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah juga nggak kalah penting.
Jadi kalau ada yang bertanya lagi,
“Anak IT kok kerja di konveksi?”
Ya, memang.
Dan saya nggak merasa pengalaman itu sia-sia sama sekali.