Kalau ada satu hal yang cukup menguras energi setelah lulus, mungkin jawabannya adalah cari kerja.
Awalnya saya pikir prosesnya akan sederhana.
Cari lowongan.
Sesuaikan CV.
Kirim lamaran.
Tunggu panggilan.
Ternyata realitanya jauh lebih panjang dari itu.
Sampai sekarang, saya sudah mencoba melamar ke lebih dari 70 perusahaan.
Ada yang lewat LinkedIn.
Ada yang lewat website perusahaan.
Ada yang lewat job portal.
Ada juga yang langsung lewat email.
Dan dari puluhan lamaran itu, tentu hasilnya nggak semuanya sesuai yang saya harapkan.
Ada yang nggak ada kabar sama sekali.
Ada yang berhenti di tahap administrasi.
Ada yang lanjut beberapa tahap.
Ada juga yang akhirnya belum cocok.
Di situ saya mulai sadar kalau cari kerja memang nggak sesederhana “asal rajin apply pasti langsung dapat”.
Ternyata Sulitnya Bukan Cuma Cari Lowongan
Dulu saya pikir bagian paling sulit dari cari kerja adalah menemukan lowongan yang cocok.
Ternyata setelah dijalani, tantangannya lebih banyak.
Kita harus mikir:
- CV sudah cukup bagus atau belum?
- Posisi ini benar-benar cocok atau cuma asal apply?
- Skill yang saya punya cukup relevan nggak?
- LinkedIn saya sudah terlihat profesional belum?
- Portfolio sudah bisa menjelaskan kemampuan saya belum?
- Kalau dipanggil interview, saya sudah cukup siap belum?
Dan kadang pertanyaan seperti itu muncul terus.
Apalagi setelah sudah apply banyak tapi hasilnya belum kelihatan.
Pasti ada momen mikir,
“Yang kurang dari saya sebenarnya apa?”
Mulai Memperbaiki CV Berkali-kali
Salah satu hal yang paling sering saya ubah selama proses cari kerja adalah CV.
Saya bahkan nggak tahu sudah berapa kali CV saya revisi.
Ada versi untuk posisi IT.
Ada yang lebih diarahkan ke IT Support.
Ada yang dibuat lebih general.
Ada juga versi yang disesuaikan untuk posisi administrasi atau pekerjaan operasional.
Awalnya saya pikir satu CV bisa dipakai untuk semua lowongan.
Tapi ternyata nggak selalu begitu.
Semakin sering melihat job description, saya semakin sadar kalau perusahaan mencari hal yang berbeda-beda.
Jadi saya mulai belajar menyesuaikan isi CV.
Bukan mengada-ada pengalaman.
Tapi memilih pengalaman mana yang paling relevan dengan posisi yang sedang saya lamar.
Dari sini saya juga mulai ngerti bahwa CV bukan sekadar daftar pengalaman.
CV itu seperti halaman pertama yang menentukan apakah recruiter mau melihat kita lebih jauh atau nggak.
Branding Diri Ternyata Penting Juga
Selain CV, saya juga mulai mencoba memperbaiki bagaimana saya memperkenalkan diri secara profesional.
Saya mulai lebih serius dengan LinkedIn.
Perbaiki headline.
Perbaiki bagian About.
Rapikan pengalaman.
Tambahkan project.
Masukkan sertifikasi.
Sampai mencoba membuat tampilan profil yang lebih mencerminkan bidang yang ingin saya kejar.
Saya juga membangun website profile sendiri.
Tujuannya sederhana.
Kalau suatu saat recruiter mencari nama saya, setidaknya ada sesuatu yang bisa mereka lihat selain CV.
Saya ingin menunjukkan kalau saya memang serius membangun karier.
Terutama di bidang IT dan industri yang memang saya minati.
Apakah branding seperti ini langsung membuat saya dapat kerja?
Belum tentu.
Tapi saya merasa setidaknya saya sedang meningkatkan kemungkinan untuk ditemukan.
Cari Opportunity Hampir Setiap Hari
Bagian lain yang cukup melelahkan adalah mencari opportunity.
Kadang buka LinkedIn.
Lalu buka job portal.
Cek website career perusahaan.
Cari postingan recruiter.
Lihat perusahaan satu per satu.
Bahkan kadang lowongan yang saya temukan belum tentu cocok.
Ada yang minta pengalaman dua tahun.
Ada yang ternyata posisi senior.
Ada yang lokasinya cukup jauh.
Ada juga yang sebenarnya menarik, tapi requirement-nya masih di atas kemampuan saya saat ini.
Jadi prosesnya bukan sekadar “cari lowongan lalu apply”.
Kita juga harus memilah.
Mana yang realistis.
Mana yang masih worth dicoba.
Mana yang memang belum waktunya.
Dan kadang setelah beberapa jam cari lowongan, hasil akhirnya cuma satu atau dua yang benar-benar saya apply.
Ada Saatnya Capek Juga
Saya nggak mau bilang kalau selama cari kerja saya selalu semangat.
Nggak.
Ada saatnya capek.
Apalagi ketika sudah memperbaiki CV, menulis email lamaran, isi form yang panjang, upload dokumen satu per satu, lalu akhirnya nggak ada kabar.
Kalau terjadi sekali mungkin biasa.
Kalau berkali-kali, tentu mulai terasa.
Kadang juga lihat orang lain sudah mulai kerja duluan.
Ada yang diterima di perusahaan bagus.
Ada yang sudah mulai posting hari pertama kerja.
Sementara kita masih cari-cari lowongan.
Kalau nggak hati-hati, hal seperti itu bisa bikin kita mulai membandingkan diri sendiri.
Saya juga pernah ada di fase itu.
Tapi akhirnya saya mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda.
Perjalanan setiap orang memang nggak sama.
70+ Lamaran Bukan Berarti 70+ Kegagalan
Ini salah satu cara berpikir yang mulai saya coba tanamkan.
Kalau saya sudah mengirim lebih dari 70 lamaran dan belum semuanya berhasil, bukan berarti saya sudah gagal lebih dari 70 kali.
Justru dari proses itu saya mulai tahu lebih banyak tentang dunia rekrutmen.
Saya jadi lebih paham cara membaca job description.
Lebih paham bagaimana menyesuaikan CV.
Lebih tahu posisi seperti apa yang cocok dengan kemampuan saya.
Lebih berani menghubungi recruiter.
Lebih terbiasa menghadapi interview.
Dan lebih sadar skill apa yang masih perlu saya tingkatkan.
Jadi walaupun hasil akhirnya belum selalu berupa offering letter, sebenarnya tetap ada progres.
Hanya saja progresnya nggak selalu terlihat.
Saya Masih Terus Mencoba
Sampai sekarang, prosesnya masih berjalan.
Saya masih cari opportunity.
Masih memperbaiki CV.
Masih merapikan LinkedIn.
Masih mengembangkan website profile.
Masih belajar skill baru.
Dan tentu masih mengirim lamaran.
Ada hari ketika semangat.
Ada juga hari ketika rasanya malas buka job portal lagi.
Menurut saya itu normal.
Yang penting jangan terlalu lama berhenti.
Karena saya tahu satu hal:
Kalau saya berhenti mencoba, peluangnya benar-benar jadi nol.
Jadi untuk sekarang, saya masih memilih untuk lanjut.
Mungkin lamaran berikutnya belum berhasil.
Mungkin sepuluh berikutnya juga belum.
Tapi siapa tahu justru salah satu opportunity berikutnya yang akhirnya membuka jalan.
Cari Kerja Ternyata Juga Sebuah Proses Belajar
Sebelum melewati fase ini, saya nggak pernah berpikir kalau cari kerja sendiri bisa jadi proses belajar yang cukup panjang.
Saya kira belajar berhenti setelah lulus.
Ternyata nggak.
Sekarang saya belajar bagaimana menjual kemampuan tanpa berlebihan.
Belajar bagaimana memperkenalkan diri.
Belajar menerima rejection.
Belajar memperbaiki kekurangan.
Dan belajar tetap jalan walaupun hasilnya belum langsung kelihatan.
Saya belum tahu nanti akan berakhir di perusahaan mana.
Belum tahu opportunity mana yang akhirnya jadi pintu pertama.
Tapi setidaknya saya tahu saya sedang bergerak ke sana.
70+ lamaran dan masih lanjut.
Semoga nanti ketika melihat tulisan ini lagi, saya sudah bisa bilang:
“Ternyata semua proses itu memang ada gunanya.”
Kalau ada satu hal yang cukup menguras energi setelah lulus, mungkin jawabannya adalah cari kerja.
Awalnya saya pikir prosesnya akan sederhana.
Cari lowongan.
Sesuaikan CV.
Kirim lamaran.
Tunggu panggilan.
Ternyata realitanya jauh lebih panjang dari itu.
Sampai sekarang, saya sudah mencoba melamar ke lebih dari 70 perusahaan.
Ada yang lewat LinkedIn.
Ada yang lewat website perusahaan.
Ada yang lewat job portal.
Ada juga yang langsung lewat email.
Dan dari puluhan lamaran itu, tentu hasilnya nggak semuanya sesuai yang saya harapkan.
Ada yang nggak ada kabar sama sekali.
Ada yang berhenti di tahap administrasi.
Ada yang lanjut beberapa tahap.
Ada juga yang akhirnya belum cocok.
Di situ saya mulai sadar kalau cari kerja memang nggak sesederhana “asal rajin apply pasti langsung dapat”.
Ternyata Sulitnya Bukan Cuma Cari Lowongan
Dulu saya pikir bagian paling sulit dari cari kerja adalah menemukan lowongan yang cocok.
Ternyata setelah dijalani, tantangannya lebih banyak.
Kita harus mikir:
- CV sudah cukup bagus atau belum?
- Posisi ini benar-benar cocok atau cuma asal apply?
- Skill yang saya punya cukup relevan nggak?
- LinkedIn saya sudah terlihat profesional belum?
- Portfolio sudah bisa menjelaskan kemampuan saya belum?
- Kalau dipanggil interview, saya sudah cukup siap belum?
Dan kadang pertanyaan seperti itu muncul terus.
Apalagi setelah sudah apply banyak tapi hasilnya belum kelihatan.
Pasti ada momen mikir,
“Yang kurang dari saya sebenarnya apa?”
Mulai Memperbaiki CV Berkali-kali
Salah satu hal yang paling sering saya ubah selama proses cari kerja adalah CV.
Saya bahkan nggak tahu sudah berapa kali CV saya revisi.
Ada versi untuk posisi IT.
Ada yang lebih diarahkan ke IT Support.
Ada yang dibuat lebih general.
Ada juga versi yang disesuaikan untuk posisi administrasi atau pekerjaan operasional.
Awalnya saya pikir satu CV bisa dipakai untuk semua lowongan.
Tapi ternyata nggak selalu begitu.
Semakin sering melihat job description, saya semakin sadar kalau perusahaan mencari hal yang berbeda-beda.
Jadi saya mulai belajar menyesuaikan isi CV.
Bukan mengada-ada pengalaman.
Tapi memilih pengalaman mana yang paling relevan dengan posisi yang sedang saya lamar.
Dari sini saya juga mulai ngerti bahwa CV bukan sekadar daftar pengalaman.
CV itu seperti halaman pertama yang menentukan apakah recruiter mau melihat kita lebih jauh atau nggak.
Branding Diri Ternyata Penting Juga
Selain CV, saya juga mulai mencoba memperbaiki bagaimana saya memperkenalkan diri secara profesional.
Saya mulai lebih serius dengan LinkedIn.
Perbaiki headline.
Perbaiki bagian About.
Rapikan pengalaman.
Tambahkan project.
Masukkan sertifikasi.
Sampai mencoba membuat tampilan profil yang lebih mencerminkan bidang yang ingin saya kejar.
Saya juga membangun website profile sendiri.
Tujuannya sederhana.
Kalau suatu saat recruiter mencari nama saya, setidaknya ada sesuatu yang bisa mereka lihat selain CV.
Saya ingin menunjukkan kalau saya memang serius membangun karier.
Terutama di bidang IT dan industri yang memang saya minati.
Apakah branding seperti ini langsung membuat saya dapat kerja?
Belum tentu.
Tapi saya merasa setidaknya saya sedang meningkatkan kemungkinan untuk ditemukan.
Cari Opportunity Hampir Setiap Hari
Bagian lain yang cukup melelahkan adalah mencari opportunity.
Kadang buka LinkedIn.
Lalu buka job portal.
Cek website career perusahaan.
Cari postingan recruiter.
Lihat perusahaan satu per satu.
Bahkan kadang lowongan yang saya temukan belum tentu cocok.
Ada yang minta pengalaman dua tahun.
Ada yang ternyata posisi senior.
Ada yang lokasinya cukup jauh.
Ada juga yang sebenarnya menarik, tapi requirement-nya masih di atas kemampuan saya saat ini.
Jadi prosesnya bukan sekadar “cari lowongan lalu apply”.
Kita juga harus memilah.
Mana yang realistis.
Mana yang masih worth dicoba.
Mana yang memang belum waktunya.
Dan kadang setelah beberapa jam cari lowongan, hasil akhirnya cuma satu atau dua yang benar-benar saya apply.
Ada Saatnya Capek Juga
Saya nggak mau bilang kalau selama cari kerja saya selalu semangat.
Nggak.
Ada saatnya capek.
Apalagi ketika sudah memperbaiki CV, menulis email lamaran, isi form yang panjang, upload dokumen satu per satu, lalu akhirnya nggak ada kabar.
Kalau terjadi sekali mungkin biasa.
Kalau berkali-kali, tentu mulai terasa.
Kadang juga lihat orang lain sudah mulai kerja duluan.
Ada yang diterima di perusahaan bagus.
Ada yang sudah mulai posting hari pertama kerja.
Sementara kita masih cari-cari lowongan.
Kalau nggak hati-hati, hal seperti itu bisa bikin kita mulai membandingkan diri sendiri.
Saya juga pernah ada di fase itu.
Tapi akhirnya saya mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda.
Perjalanan setiap orang memang nggak sama.
70+ Lamaran Bukan Berarti 70+ Kegagalan
Ini salah satu cara berpikir yang mulai saya coba tanamkan.
Kalau saya sudah mengirim lebih dari 70 lamaran dan belum semuanya berhasil, bukan berarti saya sudah gagal lebih dari 70 kali.
Justru dari proses itu saya mulai tahu lebih banyak tentang dunia rekrutmen.
Saya jadi lebih paham cara membaca job description.
Lebih paham bagaimana menyesuaikan CV.
Lebih tahu posisi seperti apa yang cocok dengan kemampuan saya.
Lebih berani menghubungi recruiter.
Lebih terbiasa menghadapi interview.
Dan lebih sadar skill apa yang masih perlu saya tingkatkan.
Jadi walaupun hasil akhirnya belum selalu berupa offering letter, sebenarnya tetap ada progres.
Hanya saja progresnya nggak selalu terlihat.
Saya Masih Terus Mencoba
Sampai sekarang, prosesnya masih berjalan.
Saya masih cari opportunity.
Masih memperbaiki CV.
Masih merapikan LinkedIn.
Masih mengembangkan website profile.
Masih belajar skill baru.
Dan tentu masih mengirim lamaran.
Ada hari ketika semangat.
Ada juga hari ketika rasanya malas buka job portal lagi.
Menurut saya itu normal.
Yang penting jangan terlalu lama berhenti.
Karena saya tahu satu hal:
Kalau saya berhenti mencoba, peluangnya benar-benar jadi nol.
Jadi untuk sekarang, saya masih memilih untuk lanjut.
Mungkin lamaran berikutnya belum berhasil.
Mungkin sepuluh berikutnya juga belum.
Tapi siapa tahu justru salah satu opportunity berikutnya yang akhirnya membuka jalan.
Cari Kerja Ternyata Juga Sebuah Proses Belajar
Sebelum melewati fase ini, saya nggak pernah berpikir kalau cari kerja sendiri bisa jadi proses belajar yang cukup panjang.
Saya kira belajar berhenti setelah lulus.
Ternyata nggak.
Sekarang saya belajar bagaimana menjual kemampuan tanpa berlebihan.
Belajar bagaimana memperkenalkan diri.
Belajar menerima rejection.
Belajar memperbaiki kekurangan.
Dan belajar tetap jalan walaupun hasilnya belum langsung kelihatan.
Saya belum tahu nanti akan berakhir di perusahaan mana.
Belum tahu opportunity mana yang akhirnya jadi pintu pertama.
Tapi setidaknya saya tahu saya sedang bergerak ke sana.
70+ lamaran dan masih lanjut.
Semoga nanti ketika melihat tulisan ini lagi, saya sudah bisa bilang:
“Ternyata semua proses itu memang ada gunanya.”
Kalau ada satu hal yang cukup menguras energi setelah lulus, mungkin jawabannya adalah cari kerja.
Awalnya saya pikir prosesnya akan sederhana.
Cari lowongan.
Sesuaikan CV.
Kirim lamaran.
Tunggu panggilan.
Ternyata realitanya jauh lebih panjang dari itu.
Sampai sekarang, saya sudah mencoba melamar ke lebih dari 70 perusahaan.
Ada yang lewat LinkedIn.
Ada yang lewat website perusahaan.
Ada yang lewat job portal.
Ada juga yang langsung lewat email.
Dan dari puluhan lamaran itu, tentu hasilnya nggak semuanya sesuai yang saya harapkan.
Ada yang nggak ada kabar sama sekali.
Ada yang berhenti di tahap administrasi.
Ada yang lanjut beberapa tahap.
Ada juga yang akhirnya belum cocok.
Di situ saya mulai sadar kalau cari kerja memang nggak sesederhana “asal rajin apply pasti langsung dapat”.
Ternyata Sulitnya Bukan Cuma Cari Lowongan
Dulu saya pikir bagian paling sulit dari cari kerja adalah menemukan lowongan yang cocok.
Ternyata setelah dijalani, tantangannya lebih banyak.
Kita harus mikir:
- CV sudah cukup bagus atau belum?
- Posisi ini benar-benar cocok atau cuma asal apply?
- Skill yang saya punya cukup relevan nggak?
- LinkedIn saya sudah terlihat profesional belum?
- Portfolio sudah bisa menjelaskan kemampuan saya belum?
- Kalau dipanggil interview, saya sudah cukup siap belum?
Dan kadang pertanyaan seperti itu muncul terus.
Apalagi setelah sudah apply banyak tapi hasilnya belum kelihatan.
Pasti ada momen mikir,
“Yang kurang dari saya sebenarnya apa?”
Mulai Memperbaiki CV Berkali-kali
Salah satu hal yang paling sering saya ubah selama proses cari kerja adalah CV.
Saya bahkan nggak tahu sudah berapa kali CV saya revisi.
Ada versi untuk posisi IT.
Ada yang lebih diarahkan ke IT Support.
Ada yang dibuat lebih general.
Ada juga versi yang disesuaikan untuk posisi administrasi atau pekerjaan operasional.
Awalnya saya pikir satu CV bisa dipakai untuk semua lowongan.
Tapi ternyata nggak selalu begitu.
Semakin sering melihat job description, saya semakin sadar kalau perusahaan mencari hal yang berbeda-beda.
Jadi saya mulai belajar menyesuaikan isi CV.
Bukan mengada-ada pengalaman.
Tapi memilih pengalaman mana yang paling relevan dengan posisi yang sedang saya lamar.
Dari sini saya juga mulai ngerti bahwa CV bukan sekadar daftar pengalaman.
CV itu seperti halaman pertama yang menentukan apakah recruiter mau melihat kita lebih jauh atau nggak.
Branding Diri Ternyata Penting Juga
Selain CV, saya juga mulai mencoba memperbaiki bagaimana saya memperkenalkan diri secara profesional.
Saya mulai lebih serius dengan LinkedIn.
Perbaiki headline.
Perbaiki bagian About.
Rapikan pengalaman.
Tambahkan project.
Masukkan sertifikasi.
Sampai mencoba membuat tampilan profil yang lebih mencerminkan bidang yang ingin saya kejar.
Saya juga membangun website profile sendiri.
Tujuannya sederhana.
Kalau suatu saat recruiter mencari nama saya, setidaknya ada sesuatu yang bisa mereka lihat selain CV.
Saya ingin menunjukkan kalau saya memang serius membangun karier.
Terutama di bidang IT dan industri yang memang saya minati.
Apakah branding seperti ini langsung membuat saya dapat kerja?
Belum tentu.
Tapi saya merasa setidaknya saya sedang meningkatkan kemungkinan untuk ditemukan.
Cari Opportunity Hampir Setiap Hari
Bagian lain yang cukup melelahkan adalah mencari opportunity.
Kadang buka LinkedIn.
Lalu buka job portal.
Cek website career perusahaan.
Cari postingan recruiter.
Lihat perusahaan satu per satu.
Bahkan kadang lowongan yang saya temukan belum tentu cocok.
Ada yang minta pengalaman dua tahun.
Ada yang ternyata posisi senior.
Ada yang lokasinya cukup jauh.
Ada juga yang sebenarnya menarik, tapi requirement-nya masih di atas kemampuan saya saat ini.
Jadi prosesnya bukan sekadar “cari lowongan lalu apply”.
Kita juga harus memilah.
Mana yang realistis.
Mana yang masih worth dicoba.
Mana yang memang belum waktunya.
Dan kadang setelah beberapa jam cari lowongan, hasil akhirnya cuma satu atau dua yang benar-benar saya apply.
Ada Saatnya Capek Juga
Saya nggak mau bilang kalau selama cari kerja saya selalu semangat.
Nggak.
Ada saatnya capek.
Apalagi ketika sudah memperbaiki CV, menulis email lamaran, isi form yang panjang, upload dokumen satu per satu, lalu akhirnya nggak ada kabar.
Kalau terjadi sekali mungkin biasa.
Kalau berkali-kali, tentu mulai terasa.
Kadang juga lihat orang lain sudah mulai kerja duluan.
Ada yang diterima di perusahaan bagus.
Ada yang sudah mulai posting hari pertama kerja.
Sementara kita masih cari-cari lowongan.
Kalau nggak hati-hati, hal seperti itu bisa bikin kita mulai membandingkan diri sendiri.
Saya juga pernah ada di fase itu.
Tapi akhirnya saya mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda.
Perjalanan setiap orang memang nggak sama.
70+ Lamaran Bukan Berarti 70+ Kegagalan
Ini salah satu cara berpikir yang mulai saya coba tanamkan.
Kalau saya sudah mengirim lebih dari 70 lamaran dan belum semuanya berhasil, bukan berarti saya sudah gagal lebih dari 70 kali.
Justru dari proses itu saya mulai tahu lebih banyak tentang dunia rekrutmen.
Saya jadi lebih paham cara membaca job description.
Lebih paham bagaimana menyesuaikan CV.
Lebih tahu posisi seperti apa yang cocok dengan kemampuan saya.
Lebih berani menghubungi recruiter.
Lebih terbiasa menghadapi interview.
Dan lebih sadar skill apa yang masih perlu saya tingkatkan.
Jadi walaupun hasil akhirnya belum selalu berupa offering letter, sebenarnya tetap ada progres.
Hanya saja progresnya nggak selalu terlihat.
Saya Masih Terus Mencoba
Sampai sekarang, prosesnya masih berjalan.
Saya masih cari opportunity.
Masih memperbaiki CV.
Masih merapikan LinkedIn.
Masih mengembangkan website profile.
Masih belajar skill baru.
Dan tentu masih mengirim lamaran.
Ada hari ketika semangat.
Ada juga hari ketika rasanya malas buka job portal lagi.
Menurut saya itu normal.
Yang penting jangan terlalu lama berhenti.
Karena saya tahu satu hal:
Kalau saya berhenti mencoba, peluangnya benar-benar jadi nol.
Jadi untuk sekarang, saya masih memilih untuk lanjut.
Mungkin lamaran berikutnya belum berhasil.
Mungkin sepuluh berikutnya juga belum.
Tapi siapa tahu justru salah satu opportunity berikutnya yang akhirnya membuka jalan.
Cari Kerja Ternyata Juga Sebuah Proses Belajar
Sebelum melewati fase ini, saya nggak pernah berpikir kalau cari kerja sendiri bisa jadi proses belajar yang cukup panjang.
Saya kira belajar berhenti setelah lulus.
Ternyata nggak.
Sekarang saya belajar bagaimana menjual kemampuan tanpa berlebihan.
Belajar bagaimana memperkenalkan diri.
Belajar menerima rejection.
Belajar memperbaiki kekurangan.
Dan belajar tetap jalan walaupun hasilnya belum langsung kelihatan.
Saya belum tahu nanti akan berakhir di perusahaan mana.
Belum tahu opportunity mana yang akhirnya jadi pintu pertama.
Tapi setidaknya saya tahu saya sedang bergerak ke sana.
70+ lamaran dan masih lanjut.
Semoga nanti ketika melihat tulisan ini lagi, saya sudah bisa bilang:
“Ternyata semua proses itu memang ada gunanya.”